Tulisan ini bukan tentang seberapa jauh kami berjalan, apalagi seberapa cepat sampai. Ini saya tulis sebagai pengingat sederhana—bahwa saya dan Cicilia Arina pernah berjalan sejauh ini, dengan segala keterbatasan yang kami punya. Mlampah Ziarah, bagi kami, bukan lomba. Ia lebih mirip ruang belajar: belajar mengenali diri, niat, dan sikap saat rencana tidak selalu berjalan sesuai mau kita.
Candu Sejak Langkah Pertama
Gerimis turun dengan mesranya pagi itu di tanggal 14 Desember 2025. Langit masih kelabu, aspal basah kuyup, dan udara dingin nan segar menyapa kami sejak di teras rumah saat kami mengikuti WMSS #6. Namun, di tengah riuh rendah suasana gerimis dan hujan yang membersamai perjalanan kami, ada satu momen hening di kepala saya. Momen ketika saya menyadari sesuatu yang fatal terjadi di sekitar Kilometer 12.
Sol belakang sepatu saya menganga. Jebol.
Ini bukan sekadar lecet di kaki atau talinya lepas, tapi sol-nya benar-benar memutuskan hubungan kerja dengan bagian atas sepatu. Di tengah guyuran gerimis, dengan sisa jarak masih puluhan kilometer lagi menuju Sendangsono, rasanya ingin ketawa tapi takut dosa, ingin nangis tapi malu sama umur. Mana sepertinya sepanjang rute tidak akan melewati toko sepatu, duh!
Di titik nadir Kilometer 12 itulah, pertanyaan klise itu muncul: "Ngapain sih harus ada di sini? Kenapa juga rela hujan-hujanan, capek-capek jalan kaki puluhan kilo, cuma buat ngalamin drama sepatu jebol begini?"
Jawabannya mungkin harus ditarik mundur sedikit ke bulan Oktober 2025, dua bulan sebelumnya.
Kala itu, saya dan Arin menjajal pengalaman perdana kami di Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) edisi ke-4. Jujur saja, awalnya cuma penasaran dan pesimis emang bisa dan kuat jalan kami sampai Sendangsono? Tapi siapa sangka, sensasi berjalan kaki jarak jauh itu ternyata punya efek samping yang berbahaya: bikin nagih! Ada rasa lelah yang anehnya justru melegakan. Ada kepuasan batin yang sulit dijelaskan ketika kita berhasil menaklukkan jarak dengan kedua kaki sendiri.
Bagi kami—buruh kantoran yang hari-harinya seringkali habis disita rutinitas pekerjaan, drama di kantor dan lingkungan serta layar gadget—ajang seperti ini bukan sekadar olahraga fisik. Ini adalah sebuah jeda. Sebuah healing terselubung.
Di rute panjang menuju Sendangsono, kami tidak hanya berjalan memindahkan badan dari titik A ke titik B. Kami sedang menziarahi diri sendiri. Melepaskan penatnya pikiran lewat keringat yang menetes, dan menemukan kembali kewarasan di setiap langkah yang kami ambil.
Candu itulah yang membawa kami kembali mendaftar di bulan Desember itu (WMSS #6), meski alam (dan sepatu saya) sepertinya punya rencana lain untuk menguji niat ziarah saya kali ini.
Drama Sebelum Garis Start
Niat sudah bulat, tapi ternyata semesta punya cara unik untuk menyeleksi siapa yang benar-benar boleh berangkat. Di Komunitas Mlampah Ziarah, tantangan pertama bukanlah tanjakan rute, melainkan kecepatan jempol saat pendaftaran.
Awalnya, saya dan Arin agak santai. Kami pikir, "Ah, paling pendaftarannya seperti biasa." Tapi begitu pengumuman rilis di tanggal 21 November, atmosfer berubah. Syarat baru mewajibkan adanya Surat Keterangan Sehat. Di sinilah sisi manusiawi kami diuji: menunda-nunda.
Rencana mencari surat itu sudah ada sejak hari pertama, tapi eksekusinya baru terjadi di detik-detik terakhir. Pagi hari di tanggal 25 November, saya buru-buru ke Puskesmas. Mengeluarkan uang 20 ribu rupiah demi selembar kertas sakti penentu nasib, sementara Arin mengurus miliknya di klinik kantor saat istirahat siang.
Sore harinya, saya iseng mengecek update peserta. Jantung saya hampir copot. Baru satu hari dibuka, kuota sudah terisi 211 dari 350 nama. Gila! Ini bukan sekadar pendaftaran jalan kaki, ini sudah seperti war tiket konser band papan atas.
Malam itu, sekitar jam sepuluh di rumah, kami melakukan ritual kecil yang cukup konyol. Kami duduk berdampingan, masing-masing memegang ponsel dengan formulir Google Form yang sudah terisi lengkap. Kami sepakat untuk menekan tombol Submit secara bersamaan.
"Satu... dua... tiga... klik!"
Harapannya sederhana: kalau dapat, kami harus dapat berdua. Kalau tidak dapat, ya sudah, setidaknya tidak ada yang ditinggal sendirian di rumah. Kami pasrah.
Keesokan harinya, tepat pukul 10.51, pengumuman resmi muncul di grup: "Pendaftaran Ditutup!" Hanya butuh waktu dua hari untuk membuat 350 slot ludes tak bersisa. Saat rekap peserta keluar sore harinya, kami tersenyum melihat hasilnya. Nama kami muncul berurutan di nomor urut #252 dan #253. Strategi "pencet bareng" kami berhasil. Nomor urut cantik ini setidaknya memudahkan kami saat registrasi ulang nanti di hari-H.
Tiket di tangan, surat sehat aman. Langkah menuju Sendangsono secara resmi dimulai dari layar ponsel malam itu.
Manusia Berencana, Hujan yang Menentukan
Menuju Walking Marathon de Sendangsono Episode Keenam kali ini, kami merasa sedikit lebih “siap” dibanding pengalaman sebelumnya. Ada latihan (niatnya) rutin (realisanya begitulah), meski sederhana. Jogging track Realino dan pedestrian Samirono sampai Terban menjadi saksi langkah-langkah kecil kami setiap pekan—memutar lintasan yang sama berulang kali, membosankan memang, tapi cukup untuk melatih kaki dan kesabaran. Kami juga mulai merasa pantas mempersiapkan diri lebih serius: manset baru agar tangan tak terlalu terpapar matahari, hydropack supaya minum lebih praktis, dan tentu saja jersey komunitas yang kami kenakan dengan rasa bangga.
Semua itu memberi kesan seolah kami sudah cukup rapi dalam merencanakan perjalanan. Setidaknya, di kepala kami, semuanya terasa terkendali.
Namun realita di jalan selalu punya cara sendiri untuk bercerita.
Pukul lima pagi di Tugu Jogja, suasana terasa basah dan syahdu. Gerimis turun sejak sebelum start—tidak deras, tapi cukup untuk membuat aspal mengilap dan udara segar enak untuk dirasakan, lampu jalan memantul di genangan air serta langkah para peziarah terdengar mantab di awal start. Di titik itu saya sadar, sebaik apa pun persiapan, perjalanan tetap akan berjalan dengan caranya sendiri. Manusia boleh berencana, tapi pagi itu hujanlah yang menentukan.
Saat Sepatu Menyerah, Langkah Tidak
Sekitar kilometer dua belas, menyusuri Selokan Mataram, kejadian itu datang tanpa aba-aba. Sepatu yang sejak awal terasa baik-baik saja, tiba-tiba sepatu kanan sol bagian belakang jebol. Bukan sekadar lepas sedikit, tapi cukup parah untuk membuat langkah terasa ganjil. Ada rasa panik kecil yang muncul—campur aduk dengan bingung dan sedikit malu. Sepertinya sepanjang rute (rai pengalaman sebelumya) tidak melewati toko sepatu, duh!
Tidak ada sepatu cadangan. Yang ada hanyalah sepasang sandal jepit di tas—sengaja dibawa tanpa, sekadar jaga-jaga. Saat sandal itu akhirnya dipakai, rasanya seperti menerima kenyataan sepenuhnya: perjalanan jauh ini tidak akan lagi nyaman.
Berjalan puluhan kilometer dengan sandal jepit. Di sela-sela jempol mulai terasa perih, lecet muncul pelan-pelan, lelah menjadi semakin terasa. Langkah menjadi lebih pelan dan harus lebih sabar.
Lebih dari Sekadar Finish Strong
Kami akhirnya tiba di Sendangsono dengan perasaan lega yang sulit diurai. Bukan lega karena waktu tempuh, bukan pula karena pencapaian fisik. Lebih kepada rasa puas karena tidak menyerah di tengah keterbatasan. Sepatu yang rusak ternyata tidak menghalangi tujuan ziarah. Yang menentukan justru niat untuk terus melangkah, meski kondisi berbeda.
Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri.
Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukan selalu alasan untuk berhenti. Kadang keterbatasan hanya penanda bahwa kita perlu menyesuaikan langkah, bukan membatalkan tujuan. Ziarah tetap sampai, meski alas kaki tidak lagi sempurna. Saling menguatkan dan menyemangati untuk tujuan yang sama.
Cerita ini bukan untuk umuk, tapi sekadar pengingat—bahwa kami pernah melakukan hal yang bagi kami luar biasa, dengan segala keterbatasan yang ada, dan apa adanya.
*ditulis bersadarkan pengalaman selama mengikuti Mlampah Ziarah dan Walking Marathon de Sendangsono (#4, #6 & #7)
