Jumat, 16 Desember 2016

Sejarah Sekaten : Adat, Budaya dan Wisata

Bimakuru - Sejak bulan November 2016 lalu beberapa ruas jalan di sekitar (menuju) Alun-alun Utara Keraton Jogja ditutup. Hal ini berkaitan dengan dilaksanakannya Pasar Malam Peringatan Sekaten (PMPS) yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya.

Kepadatan lalu-lintas mulai terasa ketika saya melintas di Jembatan Sayidan pada Sabtu malam, 10 Desmber lalu. Kepadatan kendaraan baik pemotor, mobil pribadi hingga bus mulai mengular hingga ke perempatan gondomanan. Mayoritas menuju ke arah Alun-alun Utara, tentu saja untuk mengunjungi PMPS.

Seingat saya baru kali ini acara Pasar Malam Sekaten kendaraan pribadi boleh masuk hingga sekitar Alun-alun, biasanya hanya boleh parkir diluar gerbang saja. Gelaran acara Pasar Malam Sekaten ini rutin digelar setiap tahun bertempat di Alun-alun Utara Keraton Jogja.



Sejak kapan acara Sekaten ini sudah mulai dilaksanakan ?

Asal-usul istilah sekaten disebutkan ada beberapa versi. Salah satu laman menyebut setidaknyaada tiga versi asal mula istilah Sekaten. Pendapat pertama Sekaten berasala dari kata Sekati, yaitu nama dari sepasang gamelan milik Keraton Jogja yang disebut dengan nama Galeman Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh (dimainkan) untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW.

Pendapat kedua mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata Suka dan Ati (suka hati, senang hati) karena masyarakat menyambut hari Maulud tersebut dengan perasaan syukur dan bahagia dalam perayaan pasar malam di Alun-alun Utara.

Pendapat ketiga menyebutkan bahwa Sekaten berasal dari kata Syahadatain, dua kalimat dalam Syahadat Islam, yaitu syahadat aukhid (Asyhadu alla ila-ha-ilallah) yang berarti "saya bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah" dan syahadat rasul (Waasyhadu anna Muhammadarrosululloh) yang berarti "saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah".

Wikipedia menyebut Sekaten adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad SAW yang diadakan pada setiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul Awal tahun Hijriah) di Alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dahulu dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.

Sumber lain mengatakan bahwa acara Sekaten ini sudah dilakukan jauh sebelum Keraton Jogja berdiri bahkan sudah mulai diadakan sejak Kerajaan Demak pada pemerintahan Raden Patah dengan tujuan untuk melestarikan tradisi perayaan tahunan yang sudah ada pada masa Majapahit.

Hal tersebut diduga karena Raden Patah adalah anak dari raja terakhir Majapahit, Brawijaya V. DIkarenakan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Budha, kebudayaan bawaan ini dirasa tidak sesuai dengan ajaran Islam oleh Walisongo. Sehingga tradisi itu  disesuaikan dengan ajaran agama Islam, yaitu dilaksanakan pada bulan Maulud tanggal  dua belas dengan maksud memperingati hari kelahiran nabi Muhammmad SAW.

Raden Patah sebagai raja pertama Kerajaan Demak bersama dengan Walisongo mengkolaborasi antara gamelan sebagai kesenian-budaya untuk memperkenalkan agama Islam pada masyarakat. 
Agar kegiatan tersebut menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua perangkat gamelan yang dibuat oleh Sunan Giri yang membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (Syahadatain). Dari kata Syahadatain itulah kemudian muncul istilah Sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan. Sekaten terus berkembang dan diadakan secara rutin tiap tahun di Kerajaan Islam Demak.

Selanjutnya perayaan Sekaten ini terus terbawa seiring dengan perkembangan dan perpindahan Kerajaan Demak. Selanjutnya Pemerintahan Demak dipindahkan ke Pajang oleh Jaka Tingkir. Dari Pajang lalu dipindahkan ke Mataram oleh Sutawijaya (Panembahan Senopati). Melalui perjanjian Giyanti kerajaan Mataram dipecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Adat-istiadat serta kebudayaan disetiap pemerintaahn kerajaan diatas secara otomatis juga mempengaruhi dalam perkembangan perayaan Sekaten.

Hingga perkembangannya kini Sekaten tidak hanya sebagai sebuah kultur adat saja, namun juga digunakan sebagai tujuan wisata baik masyarakat di Jogja maupun luar Jogja. Jauh dari unsur keagamaan, Sekaten lebih identik dengan Pasar Malam yang ikut memeriahkan raingkaian acara dalam menyambut puncak Sekaten-nya itu sendiri.

Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/07/kesultanan-pertama-di-tanah-jawa
http://krjogja.com/web/news/read/16552/Belum_Tahu_Sejarah_Sekaten_Begini_Awalnya
https://gudeg.net/direktori/345/riwayat-singkat-perayaan-sekaten.html
http://hudi-wahyu-p.blog.ugm.ac.id/2012/05/28/tradisi-sekaten-di-yogyakarta/
http://muslimlokal.blogspot.co.id/2014/01/tradisi-sekaten.html

Rabu, 07 Desember 2016

Melatih Anjing Buang Air Kecil Di Tempat Tertentu

Bimakuru - Memelihara anjing (bagi para pecinta anjing) seperti saya adalah suatu hal yang mengasikan. Meskipun di awal-awal penyesuaian yang anjing dengan lingkungan barunya kadang amat sangat merepotkan sang empunya tapi cukup menyenangkan untuk mempelajari setiap tipe anjing yang kita pelihara.

Baru-baru ini saya mendapat hibang seekor anak anjing jenis Beagle ras murni, kedua indukan stambum namun sayangnya sang anak terlambat untuk didaftarkan ke kennel. Sekalipun bisa, namun dendanya cukup tinggi untuk saya. Kami mengadopsi si anakan Beagel ini sekitar usia 2-3 bulan (menurut info si empunya) dan kami beri nama CIRO.

Di foto sih terlihat lucu dan menggemaskan, namun aslinya nakal. Semua-semua di gigit dan di kunyah, semua makanan dilahap, tak jarang hingga sampai muntah kekenyangan. Namanya juga anak-anak.

A photo posted by bimAKUru (@bimakuru) on

Namanya juga anak-anak, anjing lagi, ketika berada di tempat baru dan masih penyesuaian sudah lumrah jika buang air kecil (pipis) dan buang air besar (pup) sembarangan. Karena rumah kami tidak begitu besar, meski ada garasi dan teras depan, kami memutuskan memelihara anjing di dalam rumah, tidak dikandang atau di rantai di luar rumah.

Berikut ini pengalaman kami dalam melatih anjing pipis di kamar mandi

1) Kenali kebiasaan Pipisnya

Anak anjing pipis sembarangan itu biasa, apalagi jika berada di tempat baru. Masa adaptasi bisa digunakan sebagai waktu yang pas untuk melatih sejak dini bagaimana ia harus pipis.

Akan lebih baik jika anda dapat mengenali kebiasaan si anak anjing ini ketika ia akan pipis, sehingga anda dapat mengarahkan di mana ia harus nongkrong.

Tapi karena tidak 24 jam kami bisa menemani Ciro, maka kami menggunakan koran bekas untuk menandai lokasi pipisnya. Setiap kali Ciro pipis, segera kami tutup dengan selembar koran namun tidak segera kami bersihkan. Biarkan saja koran penutup pipisnya itu tetap di tempatnya. Baru kami bersihkan (plus dipel tentunya) bila memang koran sudah terlalu becek karena pipisnya si Ciro.

Awalnya bisa 2-3 tempat pipis idolanya. Lama-kelamaan jadi 1-2 tempat saja yang menjadi lokasi favorit pipisnya, kadang juga di luar koran, itu bonus!

Setelah hanya 1 lokasi berkoran yang jadi tempat favorit pipisnya, dan si Ciro sudah biasa juga pipis di koran sudah saatnya kami harus memindah koran ke lokasi yang ditentukan.

2) Pindahkan koran ke lokasi tertentu

Selanjutnya kami memindahkan koran di depan pintu kamar mandi. Kebetulan saya dan istri sama-sama kerja jadi dari pagi hingga sore kadang Ciro diluar pengawasan kami. Maka setiap pagi sebelum berangkat kerja, kami menyiapkan koran bersih di depan pintu kamar mandi. Hal tersebut diharapkan si Ciro akan selalu pipis di depan kamar mandi.

Tidak sampai satu bulan kebiasaan tersebut berjalan. Ciro 'terarahkan' untuk pipis di atas koran di depan kamar mandi. Selanjutnya kami selalu membuka pintu kamar mandi, dan menggeser koran semakin dekat (masuk) ke arah kamar mandi.

Tidak sampai satu minggu kami mendapati Ciro sudah pipis di dalam kamar mandi. Memang tidak secara langsung kami mengamati, namun setidaknya ada bekas pipis bau khas Ciro ada di kamar mandi. Namun tidak selalu di kamar mandi, ada kalanya masih di koran.

3) Biasakan....

Selanjutnya kami mulai tidak lagi menyiapkan koran di depan pintu kamar mandi, namun selalu membuka pintu kamar mandi agar Ciro dapat masuk kamar mandi. Saat ini Ciro sudah dapat pipis di dalam kamar mandi.

*Tapi bonusnya dia juga pipis di lantai dapur, aaarggggg...!!!



Tips lain dari kawan

Selain pengalaman saya diatas, seorang kawan di kantor juga membagi tipsnya dalam membiasakan anjing pipis di tempat tertentu, berikut tipsnya (yang belum saya praktekan)

1) Siapkan kain pel khusus untuk membersihakan pipis anjing. Bisa berupa kaos bekas, atau bekas kaos.
2) Gunakan khusus untuk membersihkan pipis anjing, namun jangan segera dicuci. Biarkan saja meskipun bau, karena anjing hanya mengenal bau.
3) Tempatkan kain pel tersebut di tempat tertentu yang anda inginkan agar anjing anda pipis disitu.
4) Kalaupun anjing anda masih pipis di sembarang tempat, setelah anda dapati anjing anda pipis bersihkan dengan kain pel khusus tadi. Selanjutnya tempelkan di moncong hidungnya, sembari anda memindahkan anjing dan kain pel tersebut ke tempat tertentu dimana anda ingin anjing anda pipis disitu.
5) Lakukan berulang kali hingga anjing anda akhrinya pipis di tempat khusus tersebut.
6) Jika sudah berbulan-bulan dan gagal, berarti anda kurang beruntung hehehe...

Atau anda punya pengalaman berbeda menganai melatih anak anjing pipis di tempat tertentu? Mari di bagikan di kolom komentar di bawah postingan ini, kami tunggu yaak.