Jumat, 25 Maret 2016

Mudahnya Mengurus EFIN Kantor Pajak Pratama Yogyakarta

Bimakuru - Tahun 2016 ini adalah pengalamana pertama saya mengurus pajak. Mulai dari daftar NPWP di awal tahun hingga kewajiban membayar pajak tahunan di bulan Maret ini.

Dengan kemudahan dan kemajuan teknologi saat ini, kantor pajak juga sudah memudahkan wajib pajak dengan dapat melaporkan kewajibannya secara online.

Karena sudah mendapat edaran mengenai kewajiban membayar pajak maka saya berinisiatif untuk mencoba aplikasi onlinenya, di djponline.pajak.go.id.

Login awal ternyata terjadi pesan error, Pesan Kesalahan:SO002-Data Pengguna Tidak Ditemukan. Berarti data akun saya belum ada, dan akun eRegister lalu berbeda dengan yang ini. Ok, saya coba daftar baru di djponline.pajak.go.id/registrasi.

Di form registrasi DJP Online, terdapat isian NPWP dan Electronic Filing Identification Number (EFIN). Nah, ada juga tertulis informasi Dapatkan Electronic Filing Identification Number (EFIN) dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdekat.

Terpaksa harus ke kantor pajak deh. Sebelumnya coba bertanya ke beberapa teman yang sudah mendapat EFIN, apakah bisa by phone saja? Tapi, rekomendasi mereka harus langsung ke kantor pajak dimana saja membuat NPWP.

Oke deh, akhirnya harus ke kantor pajak lagi.

Kamis (24/3/2016) pagi saya ke Kantor Pajak Pratama Yogyakarta. Berangkat sekitar jam 9 pagi dari rumah. Sampai lokasi ternyata sudah ramai, parkiran motor hingga luar kantor penuh. Bayangan saya pastinya harus ngantri panjang 1-2 jam didalam. Pokoknya tetap harus mendapat EFIN segera.

Setelah memarkir motor diluar area gedung, langsung masuk deh. Di depan sudah ada satpam yang menyapa menanyakan keperluan. Saya diarahkan ke atas di lantai dua.

Sampai diatas sudah ada barisan antrian duduk di kursi yang mungkin sengaja diatur untuk memudahkan antrian. Disebrang antrian ada dua orang sedang ngisi form. Saya tanya langsung, karena saya beranggapan mereka lebih tahu dulu mengenai EFIN, ya benar ternyata form isian untuk pengajuan EFIN-nya.


Di sekitar antrian juga tidak diinformasikan mengenai kelengkapan yang harus dibawa saat mengurus registrasi EFIN ini, namun untungnya di dompet masih ada 1 lembar fotokopi KTP saya, semoga saja cukup untuk lampirannya.

Setelah selesai isi form, langsung duduk mengantri. Banyangan saya 1-2 jam mengantri ternyata salah. Antrian registrasi EFIN kenyataannya cepat, kalau tidak salah saya hanya mengantri sekitar 15 menit dari awal mula di ujung paling jauh dengan ujung awal dekat petugas pelayanan EFIN.

Sampailah giliran saya, belum sampai petugasnya mengisikan data saya malah listri padam. Dalam hati misuh...!! Tapi ya tetap senyum saja, daripada petugasnya juga ikutan bete. Sembari menyapa, "gak pake genset mas?" Lalu disaut menjelaskan yang saya sendiri tidak donk, mungkin maksudnya otomati di genset agak bermasalah.

Namun, tidak sampai 2-3 menit listrik kebali menyala. Dan urusan registrasi EFIN kembali di lanjutkan. Akhirnya beres juga hahaha.....

Mengurus EFIN ternyata gampang dan mudah. Kelengkapan yang perlu dibawa untuk memastikan kelancarannya : (1) Fotokopi kartu NPWP, (2) Fotokopi KTP.

Senin, 21 Maret 2016

Ngobrol Bareng MPR-RI dalam Netizen Gathering 2016

Netizen Gathering 2016 Ngobrol Bareng MPR-RI, pengalaman baru bagi saya dengan santainya dapat ngobrol bareng dengan para pejabat Wakil Rakyat kita dari Senayan ini. Tak tanggung-tanggung, Bapak Zulkifli Hasan (@zul_hasan) selaku ketua MPR dan Bapak Ma'ruf Cahyono selaku Sekjen MPR datang langsung menyapa dan berdiskusi dengan para blogger (netizen) yang hadir di Eastparc Hotel Yogyakarta selama dua hari, 18-19 Maret 2016.

Zulkifli Hasan membuka dialog dengan tema bahasan GBHN Sebagai Penentu Arah Bangsa, ini juga dikaitkan dengan tugas anggota MPR untuk mensosialisasikan Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara.


Saya sendiri merasa berat dengan materi ini, karena sejak awal panitia tidak menginformasikan tema umum bahasan Ngobrol Bareng Dengan MPR RI ini terkait sosialisasi #4PilarUntukNetizen.

Apa itu Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara?

Setelah dengan mendadak googling, dengan lupa mencatat sumbernya barulah saya ngeh Empat Pilar yang dimaksud, yaitu:
1. Pancasila
2. UUD 1945
3. Bhinneka Tunggal Ika
4. NKRI

Dan salah satu tugas utama anggota MPR yang didalamnya terdiri dari anggota DPR plus DPD adalah untuk mensosialisasikan Empat Pilar tersebut, khususnya di wilayah DaPil mereka masing-masing.

Di sesi pertama ini, Ketua MPR membuka dengan menjelaskan tugas dan posisi MPR saat ini. Tugas utamanya antara lain Mengubah dan menetapkan Undang-Undang, serta Melantik Presiden. Sedangkan posisi MPR saat ini adalah setara dengan Lembaga Tinggi Negara.

Sedangkan tugas politis MPR selain dalam mensosialisasikan Empat Pilar diatas juga Pengkajuan Aspirasi Rakyat terkait tata negara, konstitusi, dll.

Ketua MPR sendiri berharap Gedung Senayan yang megah tersebut bukan sebqgai tempat yang eksklusif, namun sebisa mungkin sebagai Rumah Kebangsaan yang seluruh kalangan masyarakat Indonesia dapat mengaksesnya.

Setelah makan malam, sesi berikutnya masih ngobrol santai dengan Bapak Ma'ruf Cahyono. Beliau memaparkan salah satu langkah baru dari MPR dengan menciptakan gerakan Ini Baru Indonesia, dimana Empat Pilar diatas tadi bukan sebagai konsep saja namun juga memunculkan metoda-metoda baru dalam sosialisasinya dan aplikasinya juga.

Metoda-metoda yang sudah coba dilakukan oleh MPR terkait Empat Pilar tersebut antara lain Training of Trainee (ToT) dan juga Outbound. Dengan adanya masukan dari masyakat diharapkan muncul metoda-metoda baru yang lebih efektif dan efisien.

Lanjut dihari kedua, pembahasan dilanjutkan dengan Menangkal Radikalisme dengan Empat Pilar. Kali ini netizen diajak ngobrol santai bersama Bapak Soemandjaja Roekmandis (@sunmandis)selaku Pimpinan Badan Pengkajian MPR.

Sarapan Lotek Eastparch Hotel

Beliau mengawali dengan membahas Fundamentalisme vs Radikalisme. Menurut beliau, Fundamentalisme -> Fundamental -> Pondasi. Sedangkan Radikalisme, -> Radik -> Akar.

Radikalisme sendiri, muncul dari 4 faktor, watak seseorang (bawaan dari keluarga); latar belakang pendidikan; keyakinan yang dianutnya; serta faktor eksternal dari kebijakan pemerintah di wilayah dimana ia tinggal.

Satu yang masih sangat teringat dari sesi tersebut adalah "Bagaimana Nanti vs Nanti Bagaimana".

Implementasi Sila-sila Pancasila :

1. Berhenti Saling Merendahkan, Mulailah Menghormati Perbedaan

2. Stop Marah-Marah, Mulailah Bersikap Ramah. Stop Saling Curiga, Mulailah Saling Menyapa

3. Berhentilah saling Memaksakan, Mulailah Berkorban. Perbedaan Bergandeng Tangan

4. Berhentilah Bersilat Lidah, Mulailah Saling Musyawarah

5. Berhentilah Malas, Mulailah Bekerja Keras. Berhentulah untuk Menang Sendiri, Mulailah untuk saling Berbagi

Bima Sakti (@bimakuru), Eastparc Hotel, 19 Mar 2016